Pendidikan Moral Pancasila: 5 Alasan Penting Semangat PMP Perlu Dihidupkan Kembali

Oleh: [Edy Kusnady – WAKA 1 MPC Pemuda Pancasila Garut]
Rubrik: Opini | Pendidikan
Di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Anak-anak sekarang tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, serta arus informasi yang nyaris tidak mengenal batas.

Kemampuan akademik tentu penting. Penguasaan teknologi juga tidak bisa dihindari. Namun pendidikan akan kehilangan sebagian maknanya apabila sekolah hanya menghasilkan generasi yang pintar secara intelektual, tetapi lemah dalam adab, tanggung jawab, empati, kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, sudah saatnya kita kembali membicarakan semangat Pendidikan Moral Pancasila atau PMP.
Yang perlu dikembalikan bukan semata-mata nama mata pelajarannya. Sebab Pendidikan Pancasila saat ini tetap menjadi bagian dari pendidikan nasional dan termasuk muatan wajib pada pendidikan dasar maupun menengah. Pemerintah juga menempatkan penanaman karakter sesuai nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari tujuan pendidikan.
Yang perlu diperkuat adalah roh pendidikan moralnya.
Pendidikan Tidak Cukup Hanya Membuat Anak Pintar
Kita tentu bangga ketika seorang anak memperoleh nilai matematika tinggi, menguasai bahasa asing, mampu menggunakan komputer atau bahkan memahami teknologi kecerdasan buatan.
Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar.
Apakah ia menghormati orang tuanya? Apakah ia santun kepada guru? Apakah ia jujur ketika tidak diawasi? Apakah ia mampu menghargai teman yang berbeda? Apakah ia memiliki keberanian meminta maaf ketika melakukan kesalahan?
Inilah wilayah pendidikan karakter yang tidak bisa diukur hanya dengan angka dalam rapor.
Pada masa lalu, Pendidikan Moral Pancasila memang pernah menjadi mata pelajaran resmi. Arsip Kementerian Pendidikan bahkan masih menyimpan dokumen kurikulum PMP tahun 1986, termasuk untuk jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah.
Tentu kita tidak harus membawa sistem pendidikan kembali persis seperti puluhan tahun lalu. Zaman telah berubah.
Tetapi nilai baiknya tetap relevan.
Tantangan Moral di Era Digital
Generasi hari ini menghadapi dunia yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Melalui telepon genggam, seorang anak dapat memperoleh pengetahuan dalam hitungan detik. Namun melalui perangkat yang sama, mereka juga dapat menemukan kekerasan, perundungan, pornografi, perjudian daring, ujaran kebencian, informasi palsu hingga berbagai perilaku negatif.
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat.
Karena itu, semakin canggih teknologi yang berada di tangan manusia, semakin penting pula pendidikan yang membentuk hati nurani, tanggung jawab dan kemampuan membedakan tindakan yang benar dan salah.
Sekolah tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Orang tua pun memiliki keterbatasan.
Yang harus dibangun adalah pengendalian dari dalam diri anak.
Di sinilah pendidikan moral menemukan relevansinya.
Pancasila Harus Hadir dalam Kehidupan Nyata
Pancasila tidak seharusnya berhenti menjadi lima sila yang dihafalkan sebelum ujian.
Nilainya harus dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketuhanan tercermin dalam manusia yang beriman sekaligus menghormati sesama. Kemanusiaan terlihat ketika seorang murid tidak melakukan perundungan. Persatuan tumbuh ketika anak mampu berteman tanpa mempersoalkan perbedaan suku, agama, daerah atau keadaan ekonomi.
Musyawarah dipraktikkan ketika mereka mampu menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan. Keadilan sosial tumbuh ketika anak belajar peduli kepada orang lain dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Itulah Pendidikan Pancasila yang sesungguhnya.
Bukan sekadar mengetahui bunyi sila, tetapi mampu menjalankannya.
Pendidikan Moral Harus Menjadi Kebiasaan
Pelajaran moral juga tidak akan efektif apabila hanya diberikan satu atau dua jam dalam seminggu.
Nilainya harus hadir dalam budaya sekolah.
Guru memberi contoh. Orang tua melanjutkan pembiasaan di rumah. Sekolah membangun lingkungan yang menghargai kedisiplinan, kejujuran, kebersihan, tanggung jawab, gotong royong dan sopan santun.
Ketika seorang murid melakukan kesalahan, pendidikan tidak hanya berbicara tentang hukuman. Anak juga perlu memahami mengapa perbuatannya salah, siapa yang dirugikan dan bagaimana memperbaikinya.
Dengan cara seperti itulah moral berkembang menjadi kesadaran.
Menghidupkan Semangat PMP
Karena itu, gagasan menghidupkan kembali PMP sebaiknya tidak dipahami sekadar mengganti nama mata pelajaran.
Persoalan yang jauh lebih penting adalah menghidupkan kembali semangat pendidikannya.
Anak-anak Indonesia harus dipersiapkan menghadapi masa depan yang penuh teknologi, persaingan dan perubahan. Mereka perlu menjadi generasi yang cerdas.
Tetapi kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan arah.
Indonesia membutuhkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memiliki adab. Menguasai teknologi tetapi tetap mempunyai hati nurani. Berani berpendapat tetapi mampu menghormati orang lain.
Sekolah pada akhirnya bukan sekadar tempat menghasilkan orang-orang yang siap bekerja.
Sekolah adalah tempat kita membantu membentuk manusia.
Dan pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan orang pintar, tetapi manusia yang jujur, berakhlak, bertanggung jawab, mencintai bangsanya dan bermanfaat bagi sesama.
Itulah semangat Pendidikan Moral Pancasila yang layak kita hidupkan kembali.





KOMENTAR PEMBACA
Silakan masuk untuk menulis komentar.
MASUK UNTUK BERKOMENTAR