Muktamar Ke-35 NU 2026 Resmi Berakhir, Gus Kikin Pimpin PBNU dan Prabowo Terima Kartanu Seumur Hidup

JOMBANG, ABADI.NEWS | Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama resmi menuntaskan seluruh rangkaiannya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin, 31 Agustus 2026. Forum musyawarah tertinggi Nahdlatul Ulama yang berlangsung pada 27 sampai 31 Agustus tersebut menghasilkan keputusan penting mengenai kepemimpinan PBNU, mekanisme organisasi, rekomendasi kebangsaan, serta sejumlah keputusan Bahtsul Masail.
Muktamar tahun ini juga mencatat keterlibatan unsur Nahdlatul Ulama dan Pagar Nusa dari Kabupaten Garut. Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Garut KH R Amin Muhyiddin Maolani terpantau mengikuti dinamika Muktamar, sementara H. Deni Budiman dari PC Pagar Nusa Kabupaten Garut mendapatkan penugasan khusus dari Komando Pasukan Inti Nasional Pimpinan Pusat Pagar Nusa untuk membantu pengamanan Muktamar.
Persiapan Tambakberas Menjadi Tuan Rumah
Persiapan Muktamar sudah berlangsung jauh sebelum pembukaan. Pada pertengahan Juli 2026, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas melaporkan fasilitas akomodasi muktamirin telah selesai disiapkan, sementara dapur umum dan infrastruktur pendukung lainnya terus disempurnakan.
Menjelang pelaksanaan, PBNU kembali meninjau venue. Pada 20 Agustus, Ketua Organising Committee Muktamar Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut kesiapan fisik dan teknis sudah berada di atas 85 persen.
Sehari sebelum pembukaan, 26 Agustus, Ketua Umum PBNU saat itu KH Yahya Cholil Staquf melakukan registrasi sekaligus memeriksa langsung sejumlah lokasi yang akan digunakan untuk persidangan dan kegiatan Muktamar.
Panitia menyiapkan arena pembukaan, ruang persidangan, tempat tinggal peserta putra dan putri, konsumsi, transportasi serta sumber daya manusia untuk menopang kegiatan yang berlangsung selama lima hari.
Dibuka Presiden Prabowo
Muktamar resmi dimulai pada Kamis, 27 Agustus 2026, di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir dalam pembukaan. Kehadiran Kepala Negara kemudian menjadi salah satu benang merah Muktamar karena Prabowo kembali datang pada acara penutupan empat hari kemudian.
Dalam rangkaian pembukaan inilah muncul pula cerita mengenai keinginan Presiden memperoleh Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama atau Kartanu. Cerita tersebut kemudian mendapat penyelesaian pada penutupan Muktamar.
Persidangan Membahas Organisasi hingga Persoalan Bangsa
Setelah pembukaan, Muktamar memasuki agenda substansi berupa sidang pleno, komisi dan Bahtsul Masail.
Forum tidak hanya membicarakan pergantian kepemimpinan PBNU. Muktamirin membahas tata kelola organisasi NU, program lima tahun mendatang, persoalan hukum keagamaan serta isu strategis nasional.
Salah satu hasil penting adalah lima rekomendasi kepada pemerintah yang disahkan dalam Sidang Pleno III pada Sabtu, 29 Agustus. Rekomendasi tersebut mencakup tata kelola sumber daya alam, keadilan energi dan ketahanan pangan; lingkungan hidup dan teknologi terbarukan; peran agama dan masyarakat dalam perdamaian dunia; tata kelola pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik; serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Bahtsul Masail Qanuniyah juga menyoroti penggunaan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis. Forum meminta penggunaan anggaran pendidikan untuk MBG dihentikan mulai tahun anggaran 2027 dengan merujuk putusan Mahkamah Konstitusi yang menjadi bahan pembahasan komisi.
Mekanisme Pemilihan Ketua Umum Berubah
Salah satu pembahasan paling krusial adalah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.
Muktamar akhirnya menyepakati pemilihan Ketua Umum dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA. Mekanisme ini menempatkan musyawarah para kiai sepuh pada posisi penting dalam penentuan pucuk kepemimpinan PBNU.
Muktamar juga menetapkan ketentuan masa iddah satu tahun dari jabatan politik bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Sidang Pleno IV pada 30 Agustus.
Keputusan itu sempat memunculkan dinamika. Sejumlah massa pendukung salah satu calon mencoba memasuki ruang sidang setelah keputusan mengenai masa iddah diumumkan.
Pengamanan kemudian diperkuat. Banser, Pagar Nusa dan unsur keamanan lokal SIGAP disiagakan di sekitar Gedung Serbaguna untuk menjaga kondusivitas menjelang penghitungan tabulasi AHWA.
Pagar Nusa Ikut Menjaga Arena
Pagar Nusa mempunyai peran nyata dalam pengamanan Muktamar.
Dilaporkan bahwa unsur SIGAP yang menjaga kotak AHWA sebagian besar merupakan pendekar Pagar Nusa. Kotak tersebut digunakan untuk menampung rekomendasi nama anggota AHWA yang diajukan pengurus cabang dan wilayah.

Pasukan Inti Jawa Barat Mengirimkan Pasukan elit Nahdlatul Ulama sabanyak 44 Orang dari berbagai PC Pagar Nusa sa Jawa barat di di komando langsung oleh komandan Kopasda Jawa Barat H.Deni Budiman dan Pc Pagar Nusa kabupaten Garut.
Dalam konteks Kabupaten Garut, H. Deni Budiman dari PC Pagar Nusa Kabupaten Garut mempunyai bukti penugasan langsung.
Berdasarkan Surat Tugas Komando Pasukan Inti Nasional Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nomor 031/Kopasnas/A.I/A.2/VI/2026 tertanggal 6 Agustus 2026 yang diperoleh ABADI.NEWS, H. Deni Budiman ditugaskan melakukan pengamanan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas pada 27 sampai 31 Agustus 2026.
Dokumen tersebut menjadi bukti primer keterlibatan personel Pagar Nusa asal Garut dalam pengamanan Muktamar. Nomor identitas anggota tidak perlu dicantumkan dalam publikasi.
PCNU Garut Ikuti Dinamika Muktamar

Dari unsur PCNU Kabupaten Garut, KH R Amin Muhyiddin Maolani terverifikasi sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Garut.
Saat Muktamar berlangsung, KH Amin juga muncul dalam pemberitaan mengenai proses AHWA. Ia mendorong proses pemilihan AHWA dilakukan secara transparan melalui forum pleno.
Sebelum tahapan pemilihan berlangsung, KH Amin juga pernah menyampaikan pandangannya mengenai kandidat Rais Aam. Pernyataan tersebut merupakan sikap pribadi/organisasi yang diberitakan pada saat proses Muktamar berlangsung, bukan hasil akhir forum.
KH Miftachul Akhyar Kembali Menjadi Rais Aam
Pada Minggu malam, 30 Agustus, anggota AHWA bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU.
Hasilnya, KH Miftachul Akhyar ditetapkan secara mufakat sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.
Penetapan tersebut menjadi salah satu keputusan kepemimpinan utama Muktamar ke-35.
Gus Kikin Jadi Ketua Umum PBNU
Setelah Rais Aam ditetapkan, lima nama calon Ketua Umum yang memperoleh dukungan tertinggi dibawa ke tahapan musyawarah AHWA.
Musyawarah kemudian menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.
Dalam pidato pada penutupan, Gus Kikin menyampaikan rencana menghidupkan kembali Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai salah satu pedoman perjalanan NU memasuki abad kedua.
Sementara Rais Aam KH Miftachul Akhyar mengangkat tiga ayat Al-Qur’an sebagai pijakan NU menghadapi abad kedua, terutama berkaitan dengan penguatan kemandirian ekonomi dan pemulihan ekologi.
Prabowo Terima Kartanu Seumur Hidup
Salah satu momen paling menarik terjadi menjelang penutupan.
Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama atau Kartanu.

secara resmi menyebutnya sebagai “Kartanu Seumur Hidup.” Dalam dokumentasi resmi NU terlihat Prabowo menunjukkan kartu tersebut di hadapan peserta Muktamar.
dokumentasi momen Prabowo memperlihatkan Kartanu dalam acara penutupan dengan Rais Aam KH Miftachul Akhyar berada di sampingnya.
Dengan adanya konfirmasi langsung dari kanal resmi NU, istilah anggota NU seumur hidup dapat digunakan dalam berita dengan atribusi yang jelas kepada status Kartanu yang diberikan pada acara tersebut.
Prabowo Resmi Menutup Muktamar
Presiden Prabowo kembali hadir di Tambakberas pada Senin, 31 Agustus untuk menghadiri penutupan Muktamar.
Presiden datang mengenakan pakaian putih, celana hitam dan peci serta menyapa para peserta, termasuk Ketua Umum PBNU terpilih Gus Kikin.
Setelah rangkaian sambutan dan laporan panitia, Presiden secara resmi menutup Muktamar ke-35 NU.
Penutupan ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Presiden Prabowo Subianto di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Ketua Panitia Saifullah Yusuf memastikan seluruh agenda persidangan telah rampung dan Muktamar menghasilkan sejumlah keputusan strategis bagi perjalanan organisasi.
Dengan berakhirnya rangkaian tersebut, Nahdlatul Ulama memasuki masa khidmah baru 2026-2031 dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU.





KOMENTAR PEMBACA
Silakan masuk untuk menulis komentar.
MASUK UNTUK BERKOMENTAR